Kamis, 23 Mei 2013

LUKISAN HATI
Oleh Bambang Maulana Sudera

Aku ingin pulang kepada hati yg kucintai
tapi aku harus menunggu,
di setiap heningku tak pernah lelah kau menemaniku
walau itu hanya bayang-bayang senyummu yg bila kusentuh senyum itu pergi

Di setiap matahari pergi, s'lalu saja terlihat saat kau berpaling dan berjalan meninggalkanku
aku ingin bertahan untuk orang yang kucintai
karena kupikir tak mungkin hanya sebatas ini cintaku

Kunikmati kesepian-kesepian ini
dengan nada, dengan mimpi, juga dengan kenanganmu
biar saja rindu ini hidup di dasar hati
menunggu sampai waktu yang panjang menegurnya
sampai ia menemui apa yang ia inginkan, apa yang ia rindu

Telah kubingkai namamu, lihatlah sangat indah di dalam hati
dan perpisahan ini tak mampu merusaknya sama sekali
suatu hari nanti jika kita bersatu lagi, kan kubacakan puisi ini untukmu
dan jika tidak, kan kubacakan sajak ini pada matahari di senja hari, atau pada bulan yang s'lalu menanti ...
ini hanya sekedar lukisan hatiku saat ini, dan entah seperti apa di suatu hari

MAKALAH



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Fi’il muta’addi

Fiil muta’addi Adalah fi’il atau kata kerja  yang membutuhkan satu objek atau dua objek.
Hukum Fi’il Muta’addi adalah: menashobkan terhadap maf’ul bih  yang tidak menjadi naibul faa’il.

Pengertian maf’ul bih (objek) adalah: Isim yg dinashobkan yg dikenai langsung oleh pekerjaan FA’IL tanpa perantaraan, baik dalam kalam Mutsbat (kalimat positif) atau dalam kalam Manfi (kalimat negatif)
Contoh fiil muta’addi:
Fi’il Muta’adi    Arti
كَتَبَ - يَكْتُبُ         Menulis
قَرَأَيَقْرَأُ            Membaca
ضَرَبَيَضْرِبُ   Memukul
أَكَلَيَأْكُلُ          Makan
شَرِبَيَشْرَبُ     Minum
دَخَلَ - يَدْخُلُ         Masuk

Contoh:
فَهِمَ زَيْدٌ الدَّرْسَ (Zaid memahami pelajaran)
شَرِبَ مُحَمَّدٌ العَسَلَ (Muhammad minum madu)
أَكَلَ عَلِيٌّ الْخُبْزَ (Ali makan roti)
B.Cara Membuat Fi’il Muta’addi
1. Dibuat mengikuti wazan (pola) فَعَّلَ
Contoh:
حَسُنَ –> حَسَّنَ
سَهُلَ –> سَهَّلَ
2. Dibuat mengikuti wazan (pola) أَفْعَلَ
Contoh:
خَرَجَ –> أَخْرَجَ
كَمُلَ –> أَكْمَلَ


Fiil muta’addi itu membutuhkan fail yang melaksanakan pekerjaan, dan membutuhkan maf’ul bih selaku obyek dari perbuatan itu.

Tanda fiil muta’addi adalah : menerima dhamir ha yang kembali kepada maf’ul bih , seperti: ijtahada ttolibu fakromahu ustdzuhu.artinya pelajar itu bersungguh- sungguh, lalu gurunya memuliakannya.
Adapun ha dhomir yang kembali ke dzaraf dan mashdar maka tidak termasuk tanda-tanda yang menunjukkan kemuta’addian fiil apabila dhami ha tersebut bertemu dengan fi’il contoh: yaumal jum’atti sirtuhu (pada hari jum’at yang aku berjalan).
Dhamir ha pada contoh yang pertama adalah berada pada kedudukan nasab,karena ha’ itu adalah maf’ul bih.dan pada contoh kedua ia berada pada kedudukan nasab ,karena ha’ itu adalah maf’ul muthlaq.
Muta’addi dengan sendirinya dan muta’addi dengan yang lain
Fiil muta’addi ada kalanya muta’addi sendiri adalah kata kerja yang sampainnya kepada maf’ul bih secara langsung, yakni tanpa memakai penghubung huruf jar , seperti: baroytu kollama (aku meraut pensil).
Adapun muta’addi oleh yang lain adalah muta’addi yang sampainya kepada maf’ul bih dengan perantara huruf jar. Contoh : dahabtu bika (aku telah memberankatkan kamu)
Dengan arti : adhabtuka (aku telah memberangkatkan kamu).
Terkadang fiil muta’addi itu memerlukan dua maf’ul yang satu jelas, dan yang satunya lagi tidak jelas.contoh:uddu lamina ti ilaa ahliha (sampaikanlah amanat-amanat itu kepada yang ahlinya. Lafal amanatu adalah maf’ul bih jelas, sedang lafal ahliha adalah maf’ul bih tidak jelas.
C.  Fiil muta’addi terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
1.      Muta’addi kepada satu maf’ul
 Contoh yang membutuhkan satu objek :
كَتَبَ     (kataba)=menulis
ضَرَبَ  (dhoroba)=memukul
نَصَرَ    (nashoro)=menolong
 Contoh dalam kalimat
 (kataba muhammadun arrisalata)= Muhammad menulis surat.
2.      Muta’addi kepada dua maf’ul
Muta’addi kepada dua maf’ul terbagi menjadi dua:
1.      Bagian yang menasabkan dua maf’ul, yang keduanya bukan mubtada’ dan khabar.
2.      Muta.addi yang menasabkan kedua maf’ul yang asalnya mubtada’ dan khabar.
 Contoh fi’il yang membutuhkan dua objek :
عَلَّمَ     (‘allama)=mengajarkan
أَعْطَي (a’tho)=memberi
كَسَا    (kasaa)=memakaikan
 Contoh dalam kalimat
 (wattakhodzallaahu ibrohiima kholiila)= dan Allah menjadikan ibrohim sebagai kholil
3.      Fiil muta’addi kepada tiga maf’ul
Contoh fiil yang membutuhkan tiga objek:
Haddasa (menceriterakan)
Akhbara (mengkhabarkan)
Anglama (memberitahukan)
Arra (meperlihatkan)
Adapun bentuk mudhari’nya adalah : yuriy,yunglimu, yukhbiru.
Contoh: akhbartuhu iyyahu (saya mengkhabarkan kepadanya).
 Jika kita melihat kata-kata yang dipakai, baik yang tidak membutuhkan objek, atau membutuhkan objek satu atau dua, bisa kita nalar dengan bahasa indonesia kita, sehingga untuk menentukan dia butuh satu objek atau dua objek, bisa kita ketahui dengan logika kita.
Caranya
 1. Dengan menambahkan hamzah (أ) di depan kata sehingga membentuk pola (أَفْعَلَ=af’ala)
 Contoh :
خَرَجَ   (khoroja)=keluar     menjadi    أَخْرَجَ (akhroja)=mengeluarkan
دَخَلَ    (dakhola)=masuk    menjadi     أَدْخَلَ (adkhola)=memasukkan
 2. Dengan menasdidkan ‘ain fi’ilnya menjadi فَعَّلَ (fa’ ‘ala)
 Contoh :
حَسُنَ (hasuna)= bagus      menjadi     حَسَّنَ (hassana)=membaguskan
خَرَجَ  (khoroja)=keluar     menjadi     خَرَّجَ (khorroja)=mengeluarkan
 3. Dengan menambahkan huruf jar pada objeknya.
 Contoh :
 (dzahaballaahu binuurihim)=Allah menghilangkan cahaya mereka
  (ji’tu bihasanin)=aku datang dengan hasan
. D. Tanda-tanda Fi’il Muta’addi:
1. Dapat disambung dengan Ha Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar (yakni Dhamir Maf’ul Bih).
2. Dapat dibentuk shighat Isim Maf’ul Tam (tampa kebutuhan huruf jar).
Contoh dapat bersambung dengan HA Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar.
ضربتــه
Dhorobhutuu = aku memukulnya
Bukan sebagai tanda Fi’il Mutaadi, karena Ha dhamir merujuk pada Masdar sama, bisa disambung dengan Fi’il Muta’addi juga Fi’il Lazim, contoh:
adh-dhorbu dhorobtuhuu  ( pukulan itu aku yg memukulnya)
al- qyaamu qumtuhuu ( berdiri itu aku yg berdirinya)
Demikian juga bersambung dengang Ha dhamir merujuk pada Zhorof (zaman/makan), tidak boleh sebagai tanda Fi’il Muta’addi, sebab butuh tawassu’/taqdir huruf jar, contoh:
Allailata qumtuhaa, wan-nahaaro shumtuhaa ( aku berdiri di malam hari dan aku berpuasa di siang hari).


Bab III Kesimpulan
Fiil muta’addi adalah fiil yang membutuhkan satu objek atau dua objek. Hukum Fi’il Muta’addi adalah: menashobkan terhadap maf’ul bih  yang tidak menjadi naibul faa’il.
Cara membuat fiil muta’addi:
1.      Dibuat mengikuti wazan (pola) فَعَّلَ
2.      Dibuat mengikuti wazan (pola) أَفْعَل
fiil muta’addi terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
1.      Muta’addi kepada satu maf’ul
2.      Muta’addi kepada dua maf’ul
3.      Muta’addi kepada tiga maf’ul
. Tanda-tanda Fi’il Muta’addi:
1. Dapat disambung dengan Ha Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar (yakni Dhamir Maf’ul Bih).
2. Dapat dibentuk shighat Isim Maf’ul Tam (tampa kebutuhan huruf jar).


















DAFTAR PUSTAKA
Musthafa, syaikh. 2007. Tarjamah Jami’ud Durusil Arabiyyah. Jakarta:




SEJARAH IAID

Berbicara tentang sejarah IAID (Institut Agama Islam Darussalam), IAID di diririkan pada tanggal 01 Juni 1970. Perguruan ini dengan menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan (Ponpes Darussalam) sehingga sudah lama dipercaya oleh pemerintah dan massyarakat untukmendidik para calon-calon sarjana ulama yang cendekiawan yang selalu memiliki misi keislaman. Menurut informasi juga jumlah alumninya mencapai ribuan,,,wOoow. Dan insyaallah akan slalu bertambah dari tahun ke tahun amiiin,,
Temen-temen mau tau gak pas IAID di bangun/diresmikikan jumlah fakultasnya ada berapa?? Berdasarkan info yang aku baca sihh..katanya hanya memiliki satu fakultas yaitu fakultas Syari’ah saja. “wahh,,hemzz” tapi gak apa-apa temen-teme,,itu kan dulu,,kalau sekarang dah bertambah donkk..karena melalui usaha keras..sehingga sekarang IAID bertambah Fakultasnya jadi tiga..yaitu..
Ø Fakultas Syari’ah (Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah).
Ø Fakultas Tarbiyah (Program Studi Pendidikan Agama Islam & Program Studi pendidikan Guru Madrassah Ibtidaiyah).
Ø Program Pascasarjana/S2 (Program Studi Pendidikan Islam).
Nah,,,itu Sejarah singkat IAID
Berbicara sedikit tentang pengalamanku kuliah di IAID,meskipun belum terlalu lama baru semester tiga tetapi banyak perubahan yang aku rasakan pada diri aku pribadi  sejak kuliah disanah,,, pastinya yang fositif donkk.. !!! dari masalah berpakaian yang dulunya aku harus di gegemreng sama mamah aku, supaya aku harus slalu pake rok,dan jangan berpakaian yang ngetat banget..nah pas masuk IAID kan wajib tuhh,,pake rok,trus baju gak boleh ketat,krudungnya juga mesti yang lebar,,trus satu lagi...Harusss pakee kaoss kaakii..jangan pake spatu doank..
Dalam hati ku berkata..”.ohhh..mamah..ini nasehat & do’a mu..hehehe..” tapi gak apa-apa dengan seiring waktu aku mulai nyaman dengan semua ini..dan mulai terbiasa. Dan seiring waktu juga dengan ilmu yang ku dapatkan dari sanah aku merasa bersyukur sekalih allah masih sayang kepada ku sehingga aku masih bisa memperbaiki pakaian ku meskipun belum sesempurna mungkin. Dengan perubahan ku sekarang membuat mamah aku tak perlu lagi marah-marah Cuma masalah pakaian ku dan yang terpenting juga keluarga ku suka dengan perubahan aku saat ini..