BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Fi’il muta’addi
Fiil muta’addi Adalah fi’il atau kata
kerja yang membutuhkan satu objek atau
dua objek.
Hukum
Fi’il Muta’addi adalah: menashobkan terhadap maf’ul bih yang tidak menjadi naibul faa’il.
Pengertian
maf’ul bih (objek) adalah: Isim yg dinashobkan yg dikenai langsung oleh
pekerjaan FA’IL tanpa perantaraan, baik dalam kalam Mutsbat (kalimat positif)
atau dalam kalam Manfi (kalimat negatif)
Contoh
fiil muta’addi:
Fi’il
Muta’adi Arti
كَتَبَ - يَكْتُبُ Menulis
قَرَأَ – يَقْرَأُ Membaca
ضَرَبَ – يَضْرِبُ Memukul
أَكَلَ – يَأْكُلُ Makan
شَرِبَ – يَشْرَبُ Minum
دَخَلَ - يَدْخُلُ Masuk
Contoh:
فَهِمَ
زَيْدٌ الدَّرْسَ (Zaid memahami pelajaran)
شَرِبَ
مُحَمَّدٌ العَسَلَ (Muhammad minum madu)
أَكَلَ
عَلِيٌّ الْخُبْزَ (Ali makan roti)
B.Cara Membuat Fi’il Muta’addi
1. Dibuat mengikuti wazan (pola) فَعَّلَ
Contoh:
حَسُنَ
–> حَسَّنَ
سَهُلَ
–> سَهَّلَ
2. Dibuat mengikuti wazan (pola) أَفْعَلَ
Contoh:
خَرَجَ
–> أَخْرَجَ
كَمُلَ
–> أَكْمَلَ
Fiil muta’addi itu
membutuhkan fail yang melaksanakan pekerjaan, dan membutuhkan maf’ul bih selaku
obyek dari perbuatan itu.
Tanda fiil muta’addi adalah : menerima
dhamir ha yang kembali kepada maf’ul bih , seperti: ijtahada ttolibu fakromahu
ustdzuhu.artinya pelajar itu bersungguh- sungguh, lalu gurunya memuliakannya.
Adapun ha dhomir yang kembali ke dzaraf
dan mashdar maka tidak termasuk tanda-tanda yang menunjukkan kemuta’addian fiil
apabila dhami ha tersebut bertemu dengan fi’il contoh: yaumal jum’atti sirtuhu
(pada hari jum’at yang aku berjalan).
Dhamir ha pada contoh yang
pertama adalah berada pada kedudukan nasab,karena ha’ itu adalah maf’ul bih.dan
pada contoh kedua ia berada pada kedudukan nasab ,karena ha’ itu adalah maf’ul
muthlaq.
Muta’addi dengan sendirinya
dan muta’addi dengan yang lain
Fiil muta’addi ada kalanya
muta’addi sendiri adalah kata kerja yang sampainnya kepada maf’ul bih secara
langsung, yakni tanpa memakai penghubung huruf jar , seperti: baroytu kollama
(aku meraut pensil).
Adapun muta’addi oleh yang
lain adalah muta’addi yang sampainya kepada maf’ul bih dengan perantara huruf
jar. Contoh : dahabtu bika (aku telah memberankatkan kamu)
Dengan arti : adhabtuka (aku
telah memberangkatkan kamu).
Terkadang fiil muta’addi itu
memerlukan dua maf’ul yang satu jelas, dan yang satunya lagi tidak
jelas.contoh:uddu lamina ti ilaa ahliha (sampaikanlah amanat-amanat itu kepada
yang ahlinya. Lafal amanatu adalah maf’ul bih jelas, sedang lafal ahliha adalah
maf’ul bih tidak jelas.
C. Fiil muta’addi terbagi menjadi tiga bagian
yaitu:
1. Muta’addi kepada satu maf’ul
Contoh yang membutuhkan satu objek :
كَتَبَ (kataba)=menulis
ضَرَبَ (dhoroba)=memukul
نَصَرَ (nashoro)=menolong
Contoh dalam kalimat
(kataba muhammadun arrisalata)= Muhammad
menulis surat.
2. Muta’addi kepada dua maf’ul
Muta’addi kepada dua maf’ul terbagi menjadi dua:
1.
Bagian yang
menasabkan dua maf’ul, yang keduanya bukan mubtada’ dan khabar.
2.
Muta.addi yang
menasabkan kedua maf’ul yang asalnya mubtada’ dan khabar.
Contoh fi’il yang membutuhkan dua objek :
عَلَّمَ (‘allama)=mengajarkan
أَعْطَي (a’tho)=memberi
كَسَا (kasaa)=memakaikan
Contoh dalam kalimat
(wattakhodzallaahu ibrohiima kholiila)= dan
Allah menjadikan ibrohim sebagai kholil
3. Fiil muta’addi kepada tiga maf’ul
Contoh fiil yang membutuhkan tiga objek:
Haddasa (menceriterakan)
Akhbara (mengkhabarkan)
Anglama (memberitahukan)
Arra
(meperlihatkan)
Adapun
bentuk mudhari’nya adalah : yuriy,yunglimu, yukhbiru.
Contoh:
akhbartuhu iyyahu (saya mengkhabarkan kepadanya).
Jika kita melihat kata-kata yang dipakai, baik
yang tidak membutuhkan objek, atau membutuhkan objek satu atau dua, bisa kita
nalar dengan bahasa indonesia kita, sehingga untuk menentukan dia butuh satu
objek atau dua objek, bisa kita ketahui dengan logika kita.
Caranya
1. Dengan menambahkan hamzah (أ) di depan kata
sehingga membentuk pola (أَفْعَلَ=af’ala)
Contoh :
خَرَجَ (khoroja)=keluar menjadi
أَخْرَجَ (akhroja)=mengeluarkan
دَخَلَ (dakhola)=masuk menjadi
أَدْخَلَ (adkhola)=memasukkan
2. Dengan menasdidkan ‘ain fi’ilnya menjadi فَعَّلَ (fa’ ‘ala)
Contoh :
حَسُنَ (hasuna)=
bagus menjadi حَسَّنَ
(hassana)=membaguskan
خَرَجَ (khoroja)=keluar menjadi
خَرَّجَ (khorroja)=mengeluarkan
3. Dengan menambahkan huruf jar pada objeknya.
Contoh :
(dzahaballaahu binuurihim)=Allah menghilangkan
cahaya mereka
(ji’tu bihasanin)=aku datang dengan hasan
.
D. Tanda-tanda Fi’il Muta’addi:
1.
Dapat disambung dengan Ha Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar (yakni Dhamir
Maf’ul Bih).
2.
Dapat dibentuk shighat Isim Maf’ul Tam (tampa kebutuhan huruf jar).
Contoh
dapat bersambung dengan HA Dhamir yg tidak merujuk pada Masdar.
ضربتــه
Dhorobhutuu
= aku memukulnya
Bukan sebagai tanda Fi’il Mutaadi,
karena Ha dhamir merujuk pada Masdar sama, bisa disambung dengan Fi’il
Muta’addi juga Fi’il Lazim, contoh:
adh-dhorbu
dhorobtuhuu ( pukulan itu aku yg
memukulnya)
al-
qyaamu qumtuhuu ( berdiri itu aku yg berdirinya)
Demikian juga bersambung dengang Ha
dhamir merujuk pada Zhorof (zaman/makan), tidak boleh sebagai tanda Fi’il
Muta’addi, sebab butuh tawassu’/taqdir huruf jar, contoh:
Allailata
qumtuhaa, wan-nahaaro shumtuhaa ( aku berdiri di malam hari dan aku berpuasa di
siang hari).
Bab III Kesimpulan
Fiil muta’addi adalah fiil yang membutuhkan satu objek
atau dua objek. Hukum Fi’il Muta’addi
adalah: menashobkan terhadap maf’ul bih yang
tidak menjadi naibul faa’il.
Cara membuat fiil muta’addi:
1.
Dibuat mengikuti wazan (pola) فَعَّلَ
2.
Dibuat mengikuti wazan (pola) أَفْعَل
fiil muta’addi terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
1.
Muta’addi kepada
satu maf’ul
2.
Muta’addi kepada
dua maf’ul
3.
Muta’addi kepada
tiga maf’ul
. Tanda-tanda Fi’il Muta’addi:
1. Dapat disambung dengan Ha Dhamir yg
tidak merujuk pada Masdar (yakni Dhamir Maf’ul Bih).
2.
Dapat dibentuk shighat Isim Maf’ul Tam (tampa kebutuhan huruf jar).
DAFTAR PUSTAKA
Musthafa, syaikh. 2007. Tarjamah Jami’ud Durusil
Arabiyyah. Jakarta:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar